Ponari kini..

Jawapos, 11-10-10, halaman 1

Muhammad Ponari, Dukun Cilik dari Jombang, Kondisinya Kini
Hasil Praktik untuk Renovasi Rumah dan Beli Tanah

Masih ingat dukun cilik Ponari ? Namanya sudah lama tidak terdengar. Bocah kelas lima SDN Balongsari 1 Jombang itu ternyata hingga kini masih melakukan praktik pengobatan dengan batu ’’ajaib’’-nya. Tentu saja sudah tidak seramai tahun lalu. KHAFIDLUL ULUM, Jombang.

SUSANA, 44, menenteng ember kecil berisi air putih. Dengan penuh harap, dia membawa air itu ke rumah dukun cilik Muhammad Ponari di Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang. Walaupun jarum jam sudah menunjuk pukul 20.00, ibu dua anak tersebut tetap berangkat menuju rumah Ponari demi kesembuhan ibunya, Suparmi, yang terserang stroke. Selain sudah malam, jalan menuju rumah dukun cilik itu cukup sulit. Di sepanjang jalan desa tersebut tidak ada penerangan. Kondisinya gelap gulita. Susana dan suaminya, Suliadi, pun harus ekstra hati-hati.
Tidak hanya gelap, jalannya juga rusak parah. Apalagi, sejak sore hujan mengguyur desa itu. Akibatnya, jalan menuju rumah Ponari becek. ’’Saya harus datang ke sini demi kesembuhan ibu saya,’’ ujar Susana saat ditemui di rumah Ponari pada Jumat malam (8/10).
Padahal, sebelumnya, dia tidak tahu apakah Ponari masih membuka praktik atau sudah tutup. Tapi, warga Mojoagung itu tetap nekat datang ke rumah Ponari. ’’Pokoknya, saya datang saja. Kalau ternyata Ponari sudah tidak menerima pasien, ya sudah, pulang. Namanya juga ikhtiar,’’ terangnya.
Beruntung, saat dirinya tiba di rumah Ponari, keluarga dukun cilik tersebut menyambut baik. Mukarromah, ibu Ponari, mempersilakan Susana masuk ke rumah yang terlihat baru selesai dibangun kembali itu.
Setelah ditanya maksud kedatangan dan keluhan yang akan disampaikan ke Ponari, tak lama kemudian keluarlah Muhammad Nasir, kakek si dukun. Dia membawa handuk kecil yang membungkus batu yang biasa dipakai Ponari mengobati pasien-pasiennya.
Lalu, giliran Ponari muncul dan siap melakukan ritual pengobatan.
Batu di dalam handuk tersebut lantas diambil Ponari dan dimasukkan ke dalam ember berisi air yang dibawa pasiennya. Tak ada doa-doa, tak ada jampi-jampi. Kemudian, Ponari langsung masuk ke kamarnya lagi. Jadi, tak lebih dari satu menit, Ponari sudah menyalurkan energi batunya ke air yang nanti diminumkan ke pasien.Setelah itu, Susana dan suaminya sudah boleh pulang.
Susana menyatakan, ibunya sudah berkali-kali dibawa ke rumah sakit maupun pengobatan alternatif.
Di antaranya, ke RSUD Jombang dan RSUD dr Soetomo Surabaya. Namun, sampai sekarang ibunya yang sudah berusia 65 tahun itu tidak kunjung sembuh.
Dirinya akhirnya datang ke rumah dukun cilik itu untuk ikhtiar yang lain. ’’Kami akan terus berusaha, semoga ada kesembuhan,’’ ungkapnya. Dia berharap kesembuhan itu datang dari air yang sudah dicelup batu ajaib Ponari yang konon jatuh dari langit tersebut.
Suliadi, suami Susana, menyatakan, tidak ada salahnya dirinya datang untuk meminta air celupan batu ajaib Ponari. Bahkan, untuk meyakinkan hatinya, dia bertanya langsung kepada sang dukun tiban itu. ’’Le (Nak, Red) apakah ibu saya bisa sembuh?’’ tanya dia kepada bocah 10 tahun tersebut.
’’Insya Allah sembuh, Pak,’’ jawab Ponari lantas bergurau dengan temannya.
Mukarromah menyatakan, setiap kali ditanya pasien yang datang terkait dengan kesembuhan, Ponari selalu menjawab dengan kalimat ’’Insya Allah sembuh.’’ Sebab, kata dia, hanya Allah yang bisa menyembuhkan. Dirinya hanya perantara.
Perempuan 28 tahun tersebut menuturkan, Ponari hanya manusia biasa yang ingin membantu sesama. Namun, soal sembuh tidaknya si pasien, Ponari hanya memasrahkan kepada Tuhan.
Menurut cerita Mukarromah, anaknya itu pernah sakit agak parah. Dia didiagnosis terkena gejala tifus. Ponari lalu mencoba mengobati sendiri penyakitnya dengan air celupan batu ’’ajaib’’ tersebut. Tapi, ternyata tak sembuh. Akhirnya, dia dilarikan ke Klinik Marsudi Waluyo, Megaluh.
Setelah sembuh, Ponari kemudian membuka praktik lagi. Memang, pasiennya tidak seheboh tahun lalu. Saat itu, awal 2009, pasien Ponari mencapai ribuan orang. Hampir tiap hari ada antrean panjang yang menyesaki jalan-jalan desa tersebut. Bahkan, tak sedikit yang harus menginap untuk menunggu giliran.
Puncaknya terjadi pada Maret 2009. Yakni, lima pasien Ponari meninggal saat antre. Mereka meninggal karena kelelahan atau penyakit parah yang dideritanya.
Ponari pun menjadi bahan gunjingan di mana-mana. Ada yang percaya dengan cara pengobatan batu Ponari, ada pula yang meminta praktik dukun cilik itu ditutup.
Yang jelas, sejak ada pasien Ponari yang meninggal karena kelelahan dalam antrean, rumah praktik si dukun itu lambat laun meredup.
Tak berapa lama kemudian hilang dari pembicaraan.
Mukarromah mengungkapkan, meski Ponari tetap buka praktik, pasiennya tak sebanyak dulu. Bila dulu sehari bisa ratusan orang, kini hanya 3–5 orang. Namun, pada Sabtu dan Minggu, jumlahnya bisa sampai 10 orang. Pasien yang datang tidak hanya dari Jombang, bahkan hingga luar Jawa.
Mukarromah menceritakan, minggu lalu Ponari didatangi rombongan pasien dari Kalimantan.
Tapi, saat itu pintu rumah Ponari sedang ditutup. Dari luar terlihat sepi. Karena mengira Ponari sudah tidak membuka praktik, beberapa pasien dari jauh tersebut langsung menangis.
Seorang tetangga Ponari yang mengetahui hal itu kemudian memberitahukan kepada ibu Ponari yang berada di rumah bagian belakang.
’’Setelah saya keluar dan memberi tahu bahwa Ponari masih buka praktik, tangis mereka langsung berhenti,’’ ujarnya.
Ponari tidak hanya menerima pasien dari luar desa. Dia juga kerap diminta mengobati teman sekolahnya.
Empat hari lalu, misalnya, ada salah seorang temannya yang sakit panas. Dia pun datang ke rumah Ponari untuk meminta air celupan batu ’’ajaib’.’ Setelah meminum air itu, teman Ponari tersebut sembuh.
’’Kami hanya membantu. Soal kesembuhan, itu hanya dari Allah,’’ jelas Kamsin, ayah Ponari.
Menurut dia, anaknya sudah berkomitmen untuk membantu orang lain dengan keahlian yang dimiliki. Bahkan, saat dilarang buka praktik setelah banyak korban berjatuhan, Ponari bersikeras tetap akan mengobati orang-orang yang membutuhkan bantuannya.
’’Pokoknya, kalau ada pasien, ya dilayani,’’ katanya. Walaupun tidak seperti dulu lagi, keluarga Ponari tidak pernah mematok tarif dalam melayani pasien. Sebab, keluarga tidak bermaksud mengomersialkan pengobatan alternatif tersebut. Semua dilakukan dengan tujuan untuk membantu orang lain. ’’Diberi berapa pun akan kami terima,’’ ungkap Mukarromah.
Dia menceritakan, ada pasien yang memberikan Rp 10 ribu, Rp 20 ribu, dan ada yang Rp 50 ribu.
Dalam sehari, Ponari masih bisa mendapatkan sekitar Rp 100 ribu. Padahal, dulu dia bisa mendapatkan puluhan juta rupiah sehari. Keluarga Ponari mengakui, dari praktik dukun anaknya tersebut, sudah terkumpul lebih dari Rp 1 miliar. Uang itu sudah dibelanjakan untuk merenovasi rumah yang menghabiskan lebih dari Rp 100 juta, membeli 2 hektare tanah di Kecamatan Bandar Kedungmulyo, dan sebagian lainnya disumbangkan untuk masjid desa.
’’Tanah sawah itu sekarang kami sewakan kepada saudara. Setahun Rp 400 ribu untuk setiap 100 meter persegi,’’ ujar Kamsin. (*/c5/ari)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: