Mari Ber-Senandung Malam

This slideshow requires JavaScript.


Perjalanaan kali ini adalah Indonesia-Malaysia-Singapura. Berbeda dengan perjalanan sebelumnya Singapura-Malaysia pp. Tentunya kali ini mempunyai waktu yang lebih banyak, walaupun tidak lebih dari 12 jam :)

Aku memutuskan perjalananan Singapura-Malaysia memakai kereta api saja. Mengapa ?
1. Sudah pernah naik pesawat Singapura-Malaysia
2. Tidak buru-buru
3. Ingin mendapat pengalaman baru sambil menikmati pemandangan di daratan sepanjang perjalanan

Di Malaysia terdapat beberapa macam perusahaan kereta, yakni KTMB, Rapid KL, KLIA Express. KTMB memberikan layanan komuter, intercity, dan electric train service (ETS). Rapid KL melayani LRT, antara lain jurusan ke KLCC (Menara Kembar Petronas). Sedangkan KLIA fokus ke jalur ke dan dari Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Semuanya ada di Stasiun KL Sentral.

Kereta yang melayani jurusan Kuala Lumpur – Singapura adalah KTM Intercity Senandung Malam (Tren # 11) yang ternyata sudah berganti nama menjadi Senandung Sutera (Tren # 25). Untuk tiket kereta ini bisa dipesan jauh-jauh hari. Ada beberapa metode pemesanan, yaitu :

a. Booking melalui email : callcenter@ktmb.com.my
Tidak boleh kurang 4 hari dari tanggal keberangkatan
Pembayaran dilakukan di konter dengan diberi batas waktu
Email akan dibalas dalam waktu 3 hari kerja (tutup pada Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional Malaysia)

b. Booking melalui telepon : 1-300-88-5862 / 03-22671200 (Nomor Malaysia)
Buka setiap hari 07,00 – 21.00 waktu setempat (lebih cepat 1 jam dibanding WIB)
Tidak boleh kurang 4 hari dari tanggal keberangkatan
Pembayaran dilakukan di konter dengan diberi batas waktu

c. Beli di konter/loket
Tersedia di semua konter KTM Intercity setiap waktu sebelum kereta berangkat

Karena sesuatu hal, maka kuputuskan untuk beli langsung di stasiun pada hari H, tentunya dengan kemungkinan kehabisan tiket.

Setiba di Bandara LCCT (sudah tahu dong aku naik pesawat apa :)), aku naik bis Skybus menuju Stasiun KL Sentral (bayar MYR 9). Setiba di KL Sentral, aku langsung menuju tempat pemesanan tiket KTM Intercity (Kereta Tanah Melayu Antarabandar), kalau tidak salah naik 2 tingkat/level. Setelah bertanya dan tengok kanan-kiri, sampailah di depan loket tiket.

Oww.. ternyata sistem antrian berbeda dengan di sasiun Indonesia. Di sana, untuk beli tiket harus antri berdasarkan nomor. Itu artinya aku harus cari nomor antrian dulu di loket 1. Di situ petugas sudah menanyai kita : mau ke mana, kelas berapa, berapa orang. Jika kursi masih ada maka kita diberi nomor antrian, dan sebaliknya.

Setelah dapat nomor antrian, aku duduk dikursi yang sudah disediakan. Bagus juga sistem seperti ini, calon penumpang hanya berdiri saat mau mengambil nomor antrian saja, setelah itu dapat duduk sehingga tidak terlalu capek. Tidak seperti di sini, mengantri panjangggg seperti ular ekor dan itu pun belum tentu dapat tiket :(

Semula aku ingin memesan tiket kelas Primier Night Standar. Di kelas ini kita bisa tidur karena disediakan ranjang tidur susun. Hal yang belum ada di Indonesia saat ini.

Namun sayang, aku belum beruntung. Kelas yang kuincar sudah penuh. Aku hanya dapat kelas Superiror (ASC) (CMB) seharga MYR 34 (sekitar IDR 90.000). Gagal deh mencoba sleeping coach.. hiks. Kelas ASC ini kurang lebih seperti Argo, tapi kursinya tidak dapat diputar, ada TV, toilet berada di sisi belakang masing-masing gerbong. Selama perjalanan tidak ditawari makanan / minuman. Atau akunya yang tertidur lelap kecapekan ya karena seharian jalan muterin KLCC, Aquaria, Masjid Jamik dan Petaling Street ? Hehehe…

Ah ga juga. Aku tidak bisa tidur nyenyak. Mengapa ? Kedinginan !! Dan benar, setelah survei ke gerbong-gerbong sebelah ternyata gerbongku paling dingiiinn. Hahaha… Oh ya, ternyata tidak diberi selimut loh.

Kereta berangkat jam 23.00 waktu setempat. Calon penumpang dikumpulkan di suatu tempat. Saat kurang lebih 5 menit sebelum keberangkatan, penumpang baru boleh memasuki kereta. Itu pun harus turun eskalator dulu. Aku dapat duduk di gerbang / koc K2, yang berada di tengah-tengah kereta. Sedangkan bagian depan kelas Primier.

Priittt.. peluit dibunyikan, tanda kereta sudah boleh jalan. Selamat tinggal Malaysia…. semoga aku bisa datang lagi, maklum paspor sudah mau habis hihihihi…

Ternyata di gerbongku hanya sedikit orangnya, mungkin sekitar 10 orang. Mungkin orang-orang banyak yang memilih kelas Primier sehingga bisa tidur. Hemm.. asik juga ya kalau kereta api Jakarta-Surabaya, Jakarta-Yogyakarta bisa tidur. Ayo KAI, kamu bisa !!! :)

Sambil menahan kantuk, aku menunggu kondektur memeriksa karcis. Daripada dibangunin saat tidur. Tak lama sang kondektur datang memeriksa karcis. Karcisku dilubangi. Persiapan tidur dimulai….

Aku duduk dekat pintu. Rupanya pintu luar tidak dikunci petugas. Mungkin karena masih akan berhenti di stasiun lagi untuk mengambil penumpang. Dua stasiun di depan yakni Kajang dan Seremban berhenti. Setelah itu tidak tahu.. karena sudah tidur. Zzzzz…

Saat fajar, kereta memasuki perbatasan Malaysia dan Singapura. Sambil merasakan sisa-sisa kedinginan semalam, indahnya pagi cukup menghibur diriku.

Di Stasiun Johor, diadakan pemeriksaan imigrasi Malaysia. Petugas imigrasi yang naik ke kereta sehingga kita tidak perlu turun. Petugas akan memeriksa paspor dan memberikan tulisan tangan berupa kode, tidak ada stempel/cap imigrasi !! Kartu imigrasi Malaysia diambil. Tidak ada pemeriksaan tas !! Petugas hanya memeriksa ruangan / benda yang sekiranya dianggap mencurigakan. Waktu pemeriksaan agak lama. Setelah diperiksa, aku bisa turun kereta untuk berfoto-foto sebagai kenang-kenangan dan bukti kehadiran di sana. I was here gituuu.

Setelah pemeriksaan selesai, kereta kembali berjalan. Diamati jalannya kok pelan sekali. Ternyata tidak lama dari stasiun Johor, langsung menyeberang Selat Johor yang memisahkan daratan Malaysia dan Singapura. Sepanjang jembatan terpasang pipa-pipa besar. Kemungkinan itu pipa air yang menyuplai kebutuhan air bersih Singapura.

Tidak lama setelah menyeberang, sampailah di stasiun Woodlands. Itu artinya sudah memasuki teritorial Singapura, tepatnya di sisi Utara negeri yang dipimpin Lee Hsien Loong, anak Lee Kuan Yew (PM pertama). Berarti bisa dong anak Megawati dan SBY jadi presiden juga. Lha.. malah bahas politik :)

Oh ya kita bisa keluar di Stasiun Woodlands, lalu naik taxi / bis / MRT sesuai tujuan kita. Tentunya dengan terlebih dahulu melewati imigrasi.

Di stasiun ini dilakukan pemeriksaan imigrasi Singapura. Kali ini semua penumpang harus turun dan membawa tas masing-masing. Letak imigrasi berada di sisi belakang barisan kereta api. Aku sedikit berlari, atau tepatnya berjalan cepat menuju imigrasi. Dengan harapan, jika ternyata ada masalah imigrasi, masih ada waktu untuk menyelesaikannya. Karena dari info yang kudapat, jika kita bermasalah di imigrasi maka kita akan ditinggal kereta api, dengan kata lain kita harus melanjutkan perjalanan sendiri / mencari transportasi lain. Dan benar, partner-ku sempat ‘dipinggirkan’ untuk pemeriksaan lebih lanjut. Aku sih lancar jaya… mungkin sudah punya 3 stempel masuk negeri Singa ini hahahaha…

Setelah pemeriksaan selesai, kita tidak boleh langsung naik kereta langsung. Kita harus menunggu di ruang tunggu. Sekitar 1 jam proses imigrasi selesai, semua penumpang di minta masuk kembali ke kereta.

Kereta kembali melaju menuju pemberhentian terakhir dan sampailah di Stasiun Tanjong Pagar, terlambat sekitar 1-2 jam dari jam. Mengapa terlambat ? Tidak tahu. Apakah budaya terlambat ? Rasanya tidak. Karena dari tulisan blog orang lain yang kubaca, kalaupun terlambat hanya 30 menit :)

Dari sini MRT terdekat tentunya MRT Tanjong Pagar (East West line) atau kalau ingin langsung ke MRT jalur North East bisa ke MRT Outram Park. Oh ya, stasiun kereta KTM dan stasiun MRT beda loh ya. Bisa dicapai dengan jalan kaki atau kalau naik taksi sekitar SGD 4 (sekitar IDR 28.000).

Secara umum naik Kereta Api Senandung Sutera cukup baik dan menyenangkan, apalagi kalau tidak kedinginan dan tidak terlambat hehehe.. Yang terbayang lebih menarik jika kita pergi bersama teman-teman. Bisa dipastikan penumpang lain akan merasa terganggu karena kita akan haha-hihi terus. Emang study tour saat SMA :)

Demikian cerita singkat dariku. Apa yang baik semoga bisa dicontoh dan yang jelek tentunya ditinggalkan.
Maju terus Kereta Api Indonesia. Tingkatkan layananan dengan zero accident !

2 Responses to Mari Ber-Senandung Malam

  1. nice ..
    I liked your article.
    Do not forget to stop by on my blog. ok

  2. Tanagekeo says:

    Artikel menarik..
    Ini kan negera tetangga terdekat, saudara serumpun lagi. Pasti pengalaman yang berharga buat yang belum ke sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: